Udara Lucknow terasa kering. Tandus. Gersang. Panas.
Dari bandara kami menuju hotel. Taj Residency, di kawasan Gomti Nagar.
Gedungnya putih, dengan pilar-pilar ala kolonial. Gaya inggris deh yee...
Kami cuma check in. Langsung angkat kaki.
Desa tujuan pertama, masih di lucknow. Jaraknya sekitar dua jam perjalanan.
Menurut seorang manager sebuah perusahaan disana, desa itu tergolong miskin.
Kebanyakan penduduknay bekerja sebagai petani. Para istri membantu suami.
Malah, aku rasa para ibu itu lebih banyak bekerja.
Mereka mengurus urusan rumah tangga, mulai dari masak sampai nyuci.
Mereka juga yang memerah susu sapi.
Mereka juga yang mengurus kotoran sapi.
Disana, kotoran sapi digunakan sebagai bahan bakar memasak. Juga sebagai campuran tanah untuk membangun rumah-rumah mereka. Dindingnya memantulkan warna kuning di bawah sinar matahari sian yang terik. Atapnya menggunakan sekam. Jendela-nya kecil-kecil, dan sedikit. Mereka sudah menggunakan listrik untuk penetangan.
Biasanya, di ruangan dalam hanya tersekat dinding setinggi tubuh pemiliknya. Sekadar membatasi mana ruang sembahyang, mana ruang tamu, mana dapur dan mana ruang tidur yang juga merangkap sebagai ruang makan dan nonton televisi.
Aku bertemu Bharata Devi disana. Usianya 38 tahun. Ia punya tiga anak. Suaminya petani yang merangkap tukang listrik. Ibu itu tak mengerti bahasa inggris, tapi putri kecilnya, bisa menjawab dalam bahasa inggris yang terpatah-patah.
Ibu itu juga berjualan. Tokonya tak besar. Hanya sebuah rak yang mengisi ruang tamunya. Produk-produknya ialah sejumlah produk hindustanlever yang ia beli putus. Devi memang salah satu perempuan yang menjalani prgram enterpreneur perusahaan itu.
Kemasan produknya kecil-kecil. sangat mini dan sangat murah. untuk pemakaian dua tiga kali pakai. Murah. 2 sampai 5 rupee. kemasan sangat penting disini. Penghasilan mereka sangat sedikit untuk membeli produk berkemasan besar. Istilahnya, mereka lebih mudah buat beli "ngeteng".
Baru disini aku nemu pasta gigi dalam sachet.
Tiap hari, Devi keliling kampung buat jualan. ia tak membawa semua produk. Kadang cuma sample. Yang berminat, namanya dicatat. Keesokan hari, Devi akan mengantar pesanan sekaligus menarik bayaran.
Sekitar dua jam, ia pulang kembali ke rumah dan menyiapkan makan ntuk anaknya saat pulang sekolah. Ia juga membantu memberi penyuluhan untuk ibu-ibu yang tengah mengandung. seperti misalnya, seberapa penting garam beriodium. TEntu saja, ia juga menjual garam. Ia juga memiliki tes pengetes. Semacam larutan pengetes yang jika diteteskan ke garam iodioum akan memperlihatkan warna keunguan.
Usai dari desa itu, kami pergi ke desa lain. Sebuah sekolah, dimana hari itu tengah diadakan penyuluhan tentang kesehatan. Jaraknya sekitar satu jam perjalanan dari desa yang pertama.
sekolah itu terdiri dari tiga ruang. anak-anak yang belajar di dalamnya, duduk lesehan. Ada yang khas dari tas sekolah anak-anak. waktu di delhi, saat waktunya berangkat sekolah pagi-pagi, aku melihat kebanyakan dari mereka menggunakan tas punggung persegi panjang, dengan dua klep di kanan kiri. selalu begitu.
Di desa ini pun begitu. Bahannya, tidak kain tebal. tapi karung plastik yang lumayan tebal. warnanya beragam. Putih, biru, kuning. Tenu saja warnanya tak lagi mengkilap.
Yang kocak, mereka punya daftar menu bantal. Seriously. Pillow Menu.
Mereka punya 10 jenis bantal
Peace pillow, happiness pillow, meditation pillow, energy pillow, traquintily pillow.
Misalnya, yang disebut meditation pillow , mengandung campuran aromatic daun-daunan alami himalayan untuk proses pemurnian. Atau peace pillow , mengandung aroma lavender untuk penyembuhan dan chamomile untuk menenangkan.
Penggolongan lima jenis berikutnya berdasar bahan material. Cotton pillow, feather pillow, spondi pillow, slim pillow, supersoft pillow.
Yang mana yang aku pilih?
Well, as long as cukup lama berendam air hangat dalam bath tube, aku gak terlalu butuh variasi bantal. hehe..
even, based on my very personal opinion, bantal hotel paling nyaman dan standar keempukannya gak beda di setiap cabang, ya punyanya Shangrilla. (sumpah.. bukan iklan)
Jadi malam itu, aku gak minta bantal macem-macem. Langusng nyaman tidur