Tuesday, December 05, 2006

Review India on short time

Semua perjalanan, buat saya, selalu menarik.
selalu indah. selalu berwarna.

Seminggu trip ke India termasuk perjalanan yang lengkap, meski harus saya akui, ini masih tergolong perjalanan yang terburu dan tergesa.

Saya mengategorikan sebagai perjalanan yang lengkap untuk alat transportasinya.
Mulai dari penerbangan kelas eksekutif, ekonomi, kereta express, subway, taxi charteran, rickshaw, auto rickshaw, sampe bis ac dan bis full angin. Juga tentang penginapan. Mulai dari kelas hotel bisnis, guest house, hotel bintang dua, sampe kontrakan penjual siomay. Lumayan lengkap kan? ;)
Isu kepergian ini juga bukan semata jalan-jalan. Yang murni jalan-jalan, ya tiga hari terakhir. Tidak semuanya mampu saya ingat dan catat detil. Tapi lumayan lah, untuk berbagi, juga dokumen saya sendiri, untuk empat lokasi: New Delhi, Lucknow, Agra dan Jaipur.

Wednesday, November 22, 2006

in Lucknow

Udara Lucknow terasa kering. Tandus. Gersang. Panas.


Dari bandara kami menuju hotel. Taj Residency, di kawasan Gomti Nagar.
Gedungnya putih, dengan pilar-pilar ala kolonial. Gaya inggris deh yee...


Kami cuma check in. Langsung angkat kaki.
Desa tujuan pertama, masih di lucknow. Jaraknya sekitar dua jam perjalanan.
Menurut seorang manager sebuah perusahaan disana, desa itu tergolong miskin.
Kebanyakan penduduknay bekerja sebagai petani. Para istri membantu suami.
Malah, aku rasa para ibu itu lebih banyak bekerja.
Mereka mengurus urusan rumah tangga, mulai dari masak sampai nyuci.
Mereka juga yang memerah susu sapi.
Mereka juga yang mengurus kotoran sapi.
Disana, kotoran sapi digunakan sebagai bahan bakar memasak. Juga sebagai campuran tanah untuk membangun rumah-rumah mereka. Dindingnya memantulkan warna kuning di bawah sinar matahari sian yang terik. Atapnya menggunakan sekam. Jendela-nya kecil-kecil, dan sedikit. Mereka sudah menggunakan listrik untuk penetangan.
Biasanya, di ruangan dalam hanya tersekat dinding setinggi tubuh pemiliknya. Sekadar membatasi mana ruang sembahyang, mana ruang tamu, mana dapur dan mana ruang tidur yang juga merangkap sebagai ruang makan dan nonton televisi.

Aku bertemu Bharata Devi disana. Usianya 38 tahun. Ia punya tiga anak. Suaminya petani yang merangkap tukang listrik. Ibu itu tak mengerti bahasa inggris, tapi putri kecilnya, bisa menjawab dalam bahasa inggris yang terpatah-patah.
Ibu itu juga berjualan. Tokonya tak besar. Hanya sebuah rak yang mengisi ruang tamunya. Produk-produknya ialah sejumlah produk hindustanlever yang ia beli putus. Devi memang salah satu perempuan yang menjalani prgram enterpreneur perusahaan itu.
Kemasan produknya kecil-kecil. sangat mini dan sangat murah. untuk pemakaian dua tiga kali pakai. Murah. 2 sampai 5 rupee. kemasan sangat penting disini. Penghasilan mereka sangat sedikit untuk membeli produk berkemasan besar. Istilahnya, mereka lebih mudah buat beli "ngeteng".
Baru disini aku nemu pasta gigi dalam sachet.

Tiap hari, Devi keliling kampung buat jualan. ia tak membawa semua produk. Kadang cuma sample. Yang berminat, namanya dicatat. Keesokan hari, Devi akan mengantar pesanan sekaligus menarik bayaran.
Sekitar dua jam, ia pulang kembali ke rumah dan menyiapkan makan ntuk anaknya saat pulang sekolah. Ia juga membantu memberi penyuluhan untuk ibu-ibu yang tengah mengandung. seperti misalnya, seberapa penting garam beriodium. TEntu saja, ia juga menjual garam. Ia juga memiliki tes pengetes. Semacam larutan pengetes yang jika diteteskan ke garam iodioum akan memperlihatkan warna keunguan.

Usai dari desa itu, kami pergi ke desa lain. Sebuah sekolah, dimana hari itu tengah diadakan penyuluhan tentang kesehatan. Jaraknya sekitar satu jam perjalanan dari desa yang pertama.

sekolah itu terdiri dari tiga ruang. anak-anak yang belajar di dalamnya, duduk lesehan. Ada yang khas dari tas sekolah anak-anak. waktu di delhi, saat waktunya berangkat sekolah pagi-pagi, aku melihat kebanyakan dari mereka menggunakan tas punggung persegi panjang, dengan dua klep di kanan kiri. selalu begitu.
Di desa ini pun begitu. Bahannya, tidak kain tebal. tapi karung plastik yang lumayan tebal. warnanya beragam. Putih, biru, kuning. Tenu saja warnanya tak lagi mengkilap.


Yang kocak, mereka punya daftar menu bantal. Seriously. Pillow Menu.
Mereka punya 10 jenis bantal
Peace pillow, happiness pillow, meditation pillow, energy pillow, traquintily pillow.
Misalnya, yang disebut meditation pillow , mengandung campuran aromatic daun-daunan alami himalayan untuk proses pemurnian. Atau peace pillow , mengandung aroma lavender untuk penyembuhan dan chamomile untuk menenangkan.

Penggolongan lima jenis berikutnya berdasar bahan material. Cotton pillow, feather pillow, spondi pillow, slim pillow, supersoft pillow.

Yang mana yang aku pilih?
Well, as long as cukup lama berendam air hangat dalam bath tube, aku gak terlalu butuh variasi bantal. hehe..
even, based on my very personal opinion, bantal hotel paling nyaman dan standar keempukannya gak beda di setiap cabang, ya punyanya Shangrilla. (sumpah.. bukan iklan)
Jadi malam itu, aku gak minta bantal macem-macem. Langusng nyaman tidur

to lucknow

Kami bangun pagi-pagi untuk mengejar pesawat pagi ke Lucknow, ibu kota Uttar Pradesh.
Ada sebuah health promotion program disana.
Karenanya, saya dibawa ke daerah-daerah pedesaan di Lucknow.

Pesawat kami tertunda satu jam.
Sepertinya, itu urusan yang kerap terjadi. Kesan itu langsung tertangkap dari kecuekan penumpang yang tak merasa keberatan. Seperti sesuatu hal yang lumrah dan rutin, seperti sebuah keniscayaan yang pasti.

Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Jarak Delhi ke Lucknow :
Air minum pembukanya, jus jeruk atau air kelapa.
Slanjutnya, breakfast. Non vegetarian atau vegetarian?
Saya pilih non vegetarian. Isinya: sandwich keju, kentang ancur yang digoreng semcama perkedel gitu ;)
plus ikan.Buahnya cukup familiar. pepaya. leci. apel.
-saat penerbangan pulang, buah yang ditawarkan semacam singkong. Putih. Bentuknya batang selebar jari tengah yang gemuk. Tapi yang ini lembut. Kalo digigit, seperti lekat di gigi. Rasanya, manisssss banget. Legit. Sampe berasa ngilu.
Mereka sebut pikkha, or picca? (sori ya kalo salah. udah cek internet tapi lom nemu )

Bandara di Lucknow cukup Cute. Dengan dinding warna merah kecoklatan yang terkesan manis seperti gula-gula.
Tapi, polisi disana cukup strict untuk ngelarang moto-moto. huu..siyal. cuma dapet dikit snapshot. masih lumayan gak disuruh ngapus. soalnya aku jalan di belakang mantan bos bea cukai india. hehe.. plus, barusan moto-moto dia pula. ;)

Tuesday, November 14, 2006

Singapore to Delhi

Transit di singapore, sekitar dua jam.
Lumayan, bisa jalan-jalan seputar changi, cek-cek email plus ngeblog ;)

Sempet upload foto-foto kerjaan kemaren yang belum sempet di transfer ke server kantor.
Pake webshot, semua beres. Aku suka banget ama Webshots (selain flickr) karena limit uploadnya lebih banyak ketimbang flickr. Sempet ngerjain tugas kuliah and ngirim via email.
Emang nih... pas jalan kok ya pas mid term. Banyak tugas dan ujian.
Untuk ujian, dah dapet penundaan. Tapi tugas.. ya kudu tetep wajib dikerjain.
Lumayan juga dapet akses di lounge, gak perlu ngantri dan bisa duduk.
Tapi sama cepet kok sama internet free booth yang banyak terdapat di changi.
Bedanya bener-bener cuma di kursi dan kopi.
Eh, mungkin juga di colokan USB. Kalo di booth gitu, gak bisa pake usb. tapi ya itu kan emang disesuaiin ama kebutuhan aja. Yang perlu nge upload kerjaan kemarin karena gak sempet transfer di kantor-seperti gue- paling cuma satu dari sekian ratus kali ya.. ;)

Sempet nengok book stallnya.
Sebetulnya ada buku yang pengen aku beli.
kalo gak salah, judulnya seputar the logic of terorism gitu lah.
tapi ternyata enggak ada.
Ada buku yang narik perhatian. buku behind the lonely planet.
Tapi aku pikir-pikir, toh bakal ke india. surga buku gitu. ya udahlah.
ntar aja.

Changi, seperti biasa, selalu nyaman buat transit.
Bandaranya kan emang gede, mau cari apa aja bisa,
tapi jauh dari kesan dingin pilar-pilar besar yang tinggi.
Buat nginep nunggu penerbangan berikutnya (kalo mau save hotel) juga bisa kok.
Sempet ketemu bapak sama anaknya yang baru bangun tidur geletakan gitu.
Tapi biasanya orang-orang cuek tidur selonjoran diatas bangku-bangku ruang tunggu.

Brosur wisata banyak tersedia di bandara.
Kalo transitnya lama, sekitar lima jam ato lebih, bisa ambil free tour buat sekedar liat-liat singapore
(dua jam). Tinggal ke Singapore Visitor Centres, di Transit Lounge terminal 1 dan 2.
Ada dua pilihan : mau colonial tour atau cultural tour.
Ini emang pilihan lumayan buat yang transit ya. Kalo emang mau explore Singapore, plis jalan ndiri deh. Nggak akan puas pake tour macam gini. Kalo mau sekadar orientasi ya gak papa.
Infrastruktur S'pore udah bagus, jadi gak akan sulit buat mbulusukan kemana-mana.
Buat yang megang tiket SIA, bisa ambil tour naik bis gitu. free juga.


Menjelang pukul 18.30, saya kudu cepet boarding. Pesawat berangkat 18.55.
Perjalanan ke New Delhi memakan waktu 5 jam 11 menit.
Ada selisih waktu dimana waktu di Singapore berjalan lebih cepat 2,5 jam.
Untungnya, ya berasa ngirit waktu.
Padahal udah berasa lama dan nyaman banget tidur di pesawat.
Mumpung bisa tidur. Sekalian ngebayar jam tidur yang bolong-bolong sebelum berangkat.
Udah males dinner. Cuma sempet makan sate, buka-buka majalahnya airline, dan nonton break up. abis itu.. zzzzz

Nyampe Delhi, jam sembilan malam waktu setempat.
Udah ada penjemput, dan dia berdiri deket pintu keluar. Jadi nggak ribet nyarinya.
Malem itu, emang penuh banget. Mungkin seperti hari-hari biasanya juga ya.
Beberapa lelaki menunggu sembari membawa seikat bunga. Biasanya nunggu pacar atau nunggu anggota keluarga.

Udara Delhi malam itu agak dingin. Kami berjalan merapatkan jaket menuju tempat parkir.
Disana, ratusan mobil sedan kecil-kecil parkir rapi. Semuanya putih. Mereknya ambassador . ya model tahun 50an gitu lah. Bahkan di sepanjang jalan menuju Guest House di kawaan Defence Colony, South Delhi, saya jarang banget nemuin mobil warna item atau biru. Apalagi ijo atau pink genit gitu.
Ada beberapa taksi sliweran. warnanya item ijo kuning. konon, jenis yang ini pake argo. (sori, sampe pulang ternyata gak make taksi ginian)
Kalo lainnya, (mobil-mobil putih) gak pake argo. Silahkan tawar. 1 Rupee sekitar Rp 200.
Standar harga gak jauh-jauh ama jakarta kok.
Lirik dulu di peta selebaran yang bisa diambil di counter tourist information di dalam bandara.
Disana juga bisa tanya ongkos.

Btw, jangan sungkan tawar menawar dengan orang India. Pada dasarnya mereka memang suka adu ngeyel kok.
Sejauh pengalaman kemarin, mereka happy to bargain. Beneran deh. Jadi, sante aja tawar menawar.

Driver yang membawa kami bernama Rana.
Dia driver suruhan guest house sebuah company yang jadi sponsor perjalanan saya (plus dua orang lain dari perusahaan) .Rana orang yang pendiam. Mungkin karena bahasa inggrisnya yang terpatah-patah.
Sepintas tampak pemalu. Ia memakai setelan berkerah tinggi . rapi. dengan rambut klimis hasil olesan minyak.
Cara mengemudinya, seperti layaknya tukang bajaj di Jakarta. ;)

Dari bandara langsung ke Guest House.
Nggak sempat liat banyak kecuali gedung-gedung rumah susun dengan tembok berwarna lumpur.

Guest Housenya lumayan. Emang sih gedung lama. Kasurnya juga keras. tapi bersih. dan air panas ngalir lancar.
cukup buat persiapan tidur yang nyenyak

Monday, November 13, 2006

care-less.

Careless, its simply looks like my midlle name.
Tripod yang nyaris ketinggalan di cengkareng, seperti jadi peringatan keras untuk lebih berhati-hati.
Apalagi perjalanan sendiri di tiga hari terakhir.

Saya cuma bawa satu backpack lumayan besar, dan tripod. Thats it.
Berangkat, tas kempes. Kelak pulangnya, tau ndiri dong ..? :P

Hasil packing buat delapan hari perjalanan juga gak heboh-heboh amat.
Cuma baju dalem buat lima hari (jaga-jaga kalo gak bisa sering-sering laundry),
celana pendek dan t-shirt buat tidur,
dua t-shirt, satu blus rapi, dua celana panjang (jaga-jaga kalo pengen beli baju disana ..hehe)
plus jaket dan handuk tipis.

Urusan elektronik:
D50 memory 1Gb, memory card reader, mp3 player yang sekaligus berfungsi sebagai radio dan voice recorder, hp dan segala chargernya. Stop kontak di India modelnya tiga bolongan bulet-bulet. Which is gak masalah kalo gak bawa traveller adapter.

Urusan hygenitas dan obat-obatan:
Untuk yang satu ini, saya udah punya kotak langsung angkut.
Isinya obat diare, obat alergi, antiseptik, toiletris ukuran mini, tissue basah, kapas, sunblock, betadine, minyak kayu putih. ;)

Print-an info sekilas tentang India.
Pulpen. Bussiness card-eh visiting card - ;)
Plastik kresek.
Pasport, dompet, print tiket.

thats it. itu isi backpack. plus tripod yang punya tas sendiri.
Semuanya masuk kabin. Beres.

Sepertinya cukup praktis dan nggak ngerepotin kan?
Tapi mungkin karena belum biasa nenteng tas tripod, jadinya malah ketinggalan di x-ray cengkareng. ;)

Pas nunggu di lounge juga gak gak nyadar.
Asik nyemal-nyemil kue kecil-kecil yang imut dan manis,
makan asinan dan minum teh hangat.
gak mau rugi banget. ;p

Nge grab bussiness week baru dan langsung cao boarding.
Baru deh... -kok berasa salah ya... kok rasanya aneh ya... -
Jleder...!!
ya iyalahh.... la wong gak bawa tripod!

Tuesday, November 07, 2006

visa india

Ngurus visa india, sebetulnya gak susah kok.
Yang penting, bawa semua persyaratan dengan lengkap. (he he.. ya iya lahhh)
Buat cek-cek syaratnya, plis langsung ke situs kedutaan india bagian consular service nya.
Buat yang urus visa turis, seperti biasa, sertakan copyan tiket pulang pergi dan copyan rekening tiga bulan terakhir.
Kebetulan kesempatan ini, saya ngurus visa jurnalis.
Sama aja kok biayanya buat turis dengan masa berlaku satu bulan : Rp 472 ribu.
Nggak butuh bank statement, tapi butuh surat keterangan dari kantor dan pihak sponsor.
Langsung deh tuh nemuin atase budayanya, Mr Rajiv Chander.
Mau single entry or multiple, tinggal omong aja.

Sebelum dia tandatangan, kami ngobrol ngalur ngidul.
Mr Rajiv asli Tamil Nadu, sebuah daerah di bagian selatan India.
Dia minta kartunama yang ia sebut sebagai visiting card.
Awalnya sempet gak mudheng.
Wong belum ngurus visa kok dia minta visiting card (saat itu saya artikan sebagai sejenis visting permit gitu. hehehe.. )
Kelak di India, saya baru paham. Mereka biasa menyebut name card, or bussiness card as visiting card.

Ngurus visa India butuh dua hari.
Hari ini masukin formulir permohonan, besok sore ngambil visa.

Oh iya, enaknya emang ngurus pagi-pagi.
Jam sembilan pagi, baru satu dua orang.
Jam 11 an, ruang tunggu sekitar 20 orang itu dah penuh.

Secara keseluruhan, semua proses tergolong lancar dan cepat.